Pages


Kamis, 03 November 2016

Sepakbola Irak,harapan yang terus bersinar

Sepakbola Irak,harapan yang terus bersinar


Jakarta - Di tengah banyak peperangan yang terjadi di Irak, kebanggaan justru hadir dari sesuatu yang tidak terduga, yaitu olahraga sepakbola.

Kita pasti masih ingat aksi heroik tim nasional sepakbola Irak saat menjuarai Piala Asia (AFC Cup) 2007 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Momen tak terlupakan itu memang sudah sembilan tahun berlalu, tapi sepakbola Irak tidak pernah bosan mengguncang Asia dan bahkan dunia sejak itu.

Terhitung ada lima gelar yang sudah mereka raih di tingkat Asia (AFC) dan Asia Barat (WAFF). Di tingkat dunia juga mereka unjuk gigi dengan meraih peringkat keempat di Piala Dunia U-20 tahun 2013.

Beberapa negara pastinya sudah menderita jika harus merasakan hal yang Irak alami. Dekade demi dekade peperangan dan korupsi sudah mencabut banyak nyawa dan mengeruhkan masa depan negara ini. Tapi tidak demikian dengan sepakbola Irak. "Singa Mesopotamia", julukan Irak, tidak pernah berhenti.

Negara Asia dengan Koleksi Gelar Juara Paling Lengkap

Melalui sepakbola, menjadi juara di Piala Asia membuat Irak membuka mata dunia. Setelah 2007, sepakbola Irak yang kita lihat mungkin sepakbola yang stabil tapi "terbang di bawah radar", mereka berhasil lolos ke perempat final pada 2011 dan lolos ke semi-final pada 2015.

Namun, bukan timnas senior mereka yang membuat Irak "terbang di bawah radar", melainkan timnas muda mereka.

Dari timnas U-23, mereka menjadi juara Asia pada 2013. "Tidak ada yang membawa kebahagiaan untuk Irak kecuali para atletnya," tutur Yasir al-Saffar, pemilik warung di Baġdād kepada AFP.

Yasir menceritakan bahwa juaranya timnas U-23 Irak yang menandakan lolosnya mereka ke Olimpiade membuat orang-orang menari dan merayakannya di jalanan. Mereka menyalakan klakson, mengibarkan bendera, dan meluncurkan kembang api.

Sekembalinya dari Piala Asia U23 di Qatar, para pemain disambut dengan sorakan dukungan, drum, terompet, serta tepuk tangan di bandara. "Malam itu, kami melupakan semua korupsi, politik, dan penderitaan. Itu adalah malam yang hebat yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Para atlet muda menyatukan negeri sementara para politisi yang sudah kadaluarsa memecah negara," ucap Ali al-Samarrai, seorang "montir" komputer.

Berlanjut dari timnas U-23 ke timnas U-19, mereka pernah menjadi juara Asia pada 1975, 1977, 1978, 1988, dan 2000. Mereka juga menjadi juara AFC U-14 tahun 2014. Serta yang terbaru adalah menjuarai kejuaraan U16 AFC tahun ini setelah mereka mengalahkan tetangga sekaligus rival utama mereka di final, Iran.

Dari tingkat Asia Barat (WAFF), mereka adalah pengoleksi gelar juara WAFF 2002 serta WAFF U16 2013 dan 2015. Belum lagi jika kita melihat gelar juara Pan Arab mereka tahun 1985 dan Asian Games 1982. Sungguh melihat negara manapun, terutama di Asia, tidak ada negara dengan koleksi gelar selengkap Irak ini.

Sepakbola Irak,harapan yang terus bersinar
Foto: Pandit Football


Infografis gelar juara sepakbola Irak

Semua itu diraih Irak di saat kondisi di negara mereka tengah hingar-bingar dengan dentuman bom serta desingan peluru tanpa henti.

Total 14 gelar juara yang mereka raih akan terlihat menjadi sangat luar biasa jika kita sudah melihat konteks pembinaan sepakbola usia dini (karena mayoritas gelar juara adalah di tingkat pembinaan, bukan timnas senior) dan melihat Irak sebagai negara yang penuh dengan konflik. Mencoba merefleksikan apa yang terjadi dengan sepakbola Irak, tentunya akan membuat kita, Indonesia, malu.

Tidak Pernah Bermain di Kandang Lagi Sejak 2013

Banyak senjata yang beredar di negara mereka, sementara itu sepakbola adalah "senjata" lain dari Irak agar dunia berpaling kepada mereka. Pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro misalnya, Irak hanya mengirimkan 23 atlet yang 18 di antaranya berpartisipasi di sepakbola. Pada cabang olahraga lain, Irak masing-masing mengirimkan satu atlet: angkat beban, dayung, judo, dan renang.

Dibandingkan dengan Amerika Serikat yang menjadi pengirim atlet terbanyak dengan 554 atlet, tentu Irak bukanlah tandingan negara adidaya yang menginvasi mereka tersebut. Namun, Irak mengirimkan atletnya di cabang olahraga sepakbola yang merupakan salah satu olahraga terpopuler sekaligus bergengsi di dunia, di Olimpiade sekalipun.

Meskipun sebelumnya di tahun 1980-an Irak sempat menjadi salah satu kekuatan utama di sepakbola Asia Barat, kejatuhan Saddam Hussein pada 2003 adalah momen yang dianggap menjadi kebangkitan sepakbola mereka.

Manajemen olahraga yang hanya bisa dilakukan dengan sangat terbatas tidak membuat mereka jatuh. Dari tingkat U-16 sampai U-23, timnas Irak selalu bisa menyuplai generasi demi generasi timnas senior mereka, dengan partisipasi maupun (luar biasanya) dengan prestasi.

Sepakbola Irak,harapan yang terus bersinar
Foto: Getty Images/Koji Watanabe


Stadion al-Shaab di Kota Bagdad menjadi kandang utama "Singa Mesopotamia". Tapi tahukah Anda jika banyak konflik di negara mereka membuat Irak tidak bisa (atau lebih tepatnya tidak diperbolehkan oleh FIFA) menggelar pertandingan kandang mereka di negara mereka sendiri?

Sejak pertandingan persahabatan pada 24 Mei 2013, saat Irak dikalahkan oleh tamu mereka dari Afrika, Liberia, dengan skor 1-0, mereka belum pernah lagi menjalani pertandingan internasional di negara mereka sendiri.

Sejak itu mereka selalu berganti-ganti "kandang", mulai dari yang terdekat, di Iran, sampai yang terjauh yaitu di Malaysia. Pemilihan Malaysia menjadi satu hal menarik, karena markas utama (kantor) AFC berada di Kuala Lumpur, Malaysia.

Sepakbola Sebagai Pembawa Harapan

Pada akhir Maret 2016 ini, sempat terjadi peristiwa bom bunuh diri pada sesi penyerahan penghargaan (seremonial) saat akhir pertandingan sepakbola di Iskandariya, Irak. "Beberapa waktu setelah piala diserahkan kepada perwakilan kesebelasan, pelaku meledakkan dirinya di tengah-tengah kerumunan penonton. Bom tersebut membuat 25 orang meninggal dan melukai sekitar 90 orang lainnya, yang berada di sekitar stadion," ujar kepala keamanan Provinsi Babil, Baydhan al-Hamdani.

Kantor berita Amaq, yang disebut-sebut memiliki afiliasi dengan ISIS, menyatakan bahwa ISIS bertanggungjawab atas serangan tersebut. Younis Mahmoud dan mantan pesepakbola Irak, Emad Mohammed, kemudian mengadakan penggalangan dana untuk membantu korban dan keluarga korban. Beberapa pemain Irak seperti Nashat Akram dan Karra Jasim juga turut membantu.

Timnas senior Irak juga tidak mau ketinggalan dengan memakai ban hitam di lengan para pemain mereka dan melakukan pengheningan cipta sebelum sepak mula pertandiungan kualifikasi Piala Dunia melawan Vietnam. Pada akhirnya mereka membawa pulang tiga poin dan membuat Irak berhak lolos ke babak penyisihan selanjutnya.

Pada sebuah negara penuh konflik seperti Irak, Irak memandang sepakbola sebagai salah satu (atau mungkin satu-satunya) pemersatu negara yang rentan tersebut. Bagi masyarakat Irak, sepakbola bukan sekadar permainan, melainkan sebuah mimpi mulia dan cara mereka untuk melupakan perang. Seolah ingin merenggut mimpi mulia tersebut, pelaku bom melakukan cara yang berlebihan.

Sepakbola Irak,harapan yang terus bersinar
Foto: Getty Images/Robert Cianflone


Meskipun demikian salah satu pemain Irak yang bermain di Divisi League One (Inggris) bersama Swindon Town, yaitu Yaser Kasim, masih berpikiran bahwa sepakbola bisa tetap menjadi mimpi mulia dan pembawa harapan bagi Irak.

Kasim, yang lahir di Baġdād, tidak terlalu asing dengan koflik di Irak. Keluarganya bahkan terusir dari Irak akibat menjadi korban dari diktator. Ia kemudian mengunjungi Iskandariya beberapa waktu setelah peristiwa bom tersebut untuk bertemu dengan keluarga korban.

"Seorang teman mengantar saya ke stadion [tempat tragedi bom], dan seketika aku membuka pintu mobil, seorang pria berlari menghampiriku," kata Kasim seperti yang kami kutip dari New York Times.

"Ia sangat emosional. Dalam Bahasa Arab, ia berkata: 'Aku menangis terus-menerus [sejak tragedi bom], tapi sekarang kamu di sini, aku akan berhenti [menangis]. Aku kehilangan putraku [dalam tragedi bom], tapi sekarang aku memiliki sosok putra yang lain pada dirimu.' Aku tidak tahu harus berkata apa, aku merasa tersentuh."

Kasim juga mengunjungi rumah dari anak berusia 10 tahun yang menjadi korban pemboman tersebut. Anak tersebut menderita luka bakar dari pinggang sampai seluruh bagian bawah tubuhnya. Kasim bertanya apakah ia mencintai sepakbola, tapi anak tersebut menjawab, "Tidak, tidak lagi."

"Itu adalah jawaban paling menyedihkan yang pernah aku dengar," katanya mengomentari hilangnya kecintaan anak tersebut pada sepakbola akibat dari tragedi tersebut. "Karena aku pernah seperti mereka, bermain sepakbola di jalanan dan [menyaksikan pertandingan] di stadion seperti ini. Itu adalah hal terburuk yang pernah dilakukan oleh seseorang [teroris] — mereka menghancurkan mimpi anak-anak di sini."

Meskipun demikian, Kasim tetap percaya bahwa sepakbola adalah sesuatu yang bisa menyatukan Irak. "Kita menaruh karangan bunga di stadion ini, masih ada banyak anak kecil yang bermain sepakbola di atas lapangannya, ini adalah hal yang luar biasa. Kebahagiaan bermain sepakbola, tidak ada seorangpun yang akan menghancurkannya."

***

Sepakbola Irak,harapan yang terus bersinar

Sejumlah gelar juara yang lengkap di Asia dan partisipasi yang rutin di kejuaran tingkat dunia membuat Irak sejenak bisa melupakan konflik demi konflik di negara mereka. Saat ini mereka memiliki pemain-pemain yang bermain di Eropa seperti Ali Adnan (Udinese), Dhurgham Ismail (Çaykur Rizespor), Ahmed Yasin (AIK Stockholm), Brwa Nouri (Östersunds FK), Osama Rashid (Lokomotiv Plovdiv), Yaser Kasim (Swindon Town), dan masih banyak nama lainnya.

Beberapa dari mereka adalah para pemain yang masih berusia muda. Kemudian melihat kesuksesan timnas U-16, U-19, dan U-23 mereka, rasanya masih akan lebih banyak lagi nama-nama pemain Irak yang bisa bersinar di masa depan. Melalui sepakbola, mereka adalah pembawa harapan negara mereka meskipun negara mereka sedang banyak konflik.

Kita di Indonesia sudah sempat banyak belajar. Mulai dari sepakbola kita yang sebenarnya sudah ketinggalan 100 tahun dari Jepang sampai berkaca kepada tetangga dekat kita di Asia Tenggara, Vietnam.

Dengan contoh terbaru yang lebih "menampar" dari negara penuh konflik, Irak; wacana demi wacana sudah kita baca dan kita resapi. Mau menunggu apalagi bagi kita, Indonesia, untuk mewujudkan wacana-wacana tersebut?

SUMBER

Quote:Original Posted By pabloo


Iya betul gan
Kayaknya sepak bola bisa mencairkan apapun ya
Orang orang bisa tiba tiba satu pikiran manakala kena sindrom bola
Hehehehe



keren dah irak
sama kayak indonesia.. bersinar terus... mpe jadi rebutan untuk jadi ketua PSSI
Quote:Original Posted By SadarAljaber
keren dah irak


kalah mulu ma agan ini
bacq dulu gan
Penuh dengan harapan
MANTAP
jadi inget pas jaman saddam kabarnya kalo timnas mereka kalah pas pulang dihukum penjara
Quote:Original Posted By semprot.crooot
jadi inget pas jaman saddam kabarnya kalo timnas mereka kalah pas pulang dihukum penjara


denger2 sih dlu katanya gtu entah bener apa kagak
Quote:Original Posted By sukamto77
denger2 sih dlu katanya gtu entah bener apa kagak



lho tadi kayaknya ente nyebut2 timnas korea utara
perang terus dan konflik tapi prestasi ada
Quote:Original Posted By ex.agam
perang terus dan konflik tapi prestasi ada


Itulah hebatnya irak..lagi konflik masih bisa nyetak prestasi apalagi aman damai sentosa yaa
mereka fokus untul sepak bola jdi mereka ngga ngursin perang
I love my country
Semoga semakin bertaring di piala dunia
sepakbola
ntapz ya kak irak ini. walau dalam keadaan gawat tetapi prestasi jalan terus
wih mantap berprestasi,semoga indonesia bisa nyusul
Irak memang punya tradisi sepakbola sejak tahun 80an..ada peran saddam husein dibalik kesuksesan sepakbola irak

Kalau ane ngegans sama ni pemain
Il capitanonya irak

Sepakbola Irak,harapan yang terus bersinar
Terus lah bersinar




Pejwan ane GEMBOK yah om takut maho masuk bahaya.
Via: Kaskus.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar